Stunting Masih Menjadi Momok, DPPKB Kutim Inovasi Hadirkan Aplikasi
Oleh Admin2 menit baca2.958 dibaca

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur Ronny Bonar
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,KUTIM- Pelaksana tugas
(Plt) Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai
Timur Ronny Bonar, mengemukakan, saat ini, tingkat Stunting masih menjadi momok
yang perlu disikapi serius. Untuk itu DPPKB akan melounching aplikasi stunting.
tujuannya mengintegrasikan data secara akurat.
Ditemui di ruangannya pada Kamis, 23/11/2023. Ronny Bonar, mengakui polemic data yang simpang siur perlu disikapi. Pasalnya, pihaknya masih gamang dalam menyikapi keakuratan data.
"Kadang kita bingung, benarkah data stunting yang kita dapat itu akurat," ujar Ronny Bonar saat ditemui, beberapa waktu lalu.
"Dari situlah aplikasi stunting ini dilandasi karen kurang validnya data," tambahnya.
Diharapkan, keberadaan aplikasi stunting itu tidak hanya menggurkan kewajiban tetapi benar-benar dapat digunakan secara efektif.
"Harapannya, aplikasi ini dapat menjadi yang pertama di Indonesia, membuktikan validitasnya dengan item tertentu yang tidak dimiliki daerah lain," ucapnya.
Terkait dengan system kinerja aplikasi itu, nantinya data input dari hasil aplikasi kemudian akan dilakukan tindakan audit kasus stunting (AKS). Ia mencontohkan beberapa kasus.
"Contohnya, seorang anak yang teridentifikasi mengidap stunting. nah, dengan applikasi itu terkoneksi langsung ke para dokter. Sehingga segera direspon dan intervensi oleh dokter anak atau ahli gizi. Langkah ini bertujuan untuk menangani permasalahan kesehatan anak secara lebih personal dan efisien," ulasnya.
Pun demikian, pada saat pertemuan antara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pusat Bersama Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor di Balikpapan, beberapa bulan yang lalu.
Isran Noor menyampaikan keprihatinannya. Kendati di daerahnya telah mencapai prestasi dalam lima dari tujuh indikator ekonomi, namun Kaltim pada umumnya, masih tercatat tingkat kemiskinan ekstrem dan tingginya angka stunting. ini masih menjadi momok.
"Dari 7 indikator ekonomi Kalimantan Timur itu, sudah memenuhi yang 5 artinya sudah mengalami peningkatan terbaik. Tapi dikatakan mempunyai kemiskinan ekstrem dan stunting yang tinggi. Namun bagi Kota Bontang tingkat kemiskinannya ektrem 0 tapi tingkat stuntingnya tinggi. Padahal stunting logikanya kurang gizi," ucapnya.
Ia berharap aplikasi stunting ini dapat merubah paradigma positif masyarakat."DPPKB berkomitmen untuk merubah paradigma dan memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesejahteraan anak-anak Kutai Timur," tandasnya.(adv/nan)




