AHY Tinjau IPAM Teritip, Balikpapan Defisit Air Bersih 1.000 Liter per Detik
Oleh Admin3 menit baca499 dibaca

POSKOTAKALTIMNEWS, BALIKPAPAN: Kebutuhan air bersih di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, masih jauh dari kapasitas produksi yang tersedia. Dengan kebutuhan mencapai 2.500 liter per detik, pasokan air bersih yang mampu diproduksi saat ini baru sekitar 1.500 liter per detik. Artinya, Balikpapan masih mengalami defisit hingga 1.000 liter per detik.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat meninjau Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Sumur Dalam di Jalan Mulawarman, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kamis (8/10/2026) sore.
Dalam keterangannya di lokasi, AHY menegaskan bahwa kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan air bersih harus diatasi melalui langkah terukur, bertahap, dan berkelanjutan.
“Balikpapan masih sangat membutuhkan suplai air. Hari ini tersedia 1.500 liter per detik, sementara kebutuhannya kurang lebih 2.500 liter per detik. Selisih ini yang harus terus kita kejar secara bertahap,” tegas AHY.
Menurutnya, pemerintah perlu mengoptimalkan berbagai sumber air baku alternatif untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan masyarakat, terutama di tengah ancaman kekeringan dan fenomena El Niño.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemanfaatan air tanah melalui sumur dalam. Fasilitas IPAM Sumur Dalam Teritip menjadi salah satu langkah konkret untuk menambah pasokan air bersih, khususnya bagi masyarakat di wilayah Balikpapan Timur.
Direktur Utama Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB), Yudhi Saharuddin, menjelaskan bahwa IPAM Teritip saat ini memproduksi air bersih sebesar 10 liter per detik untuk melayani 1.089 kepala keluarga (KK) di Kelurahan Teritip dan sekitarnya.
“Kapasitas produksi saat ini baru 10 liter per detik di sini dan melayani 1.089 rumah. Sebenarnya kami memiliki dua sumur dalam di lokasi ini, dan kapasitas produksinya secara keseluruhan berpotensi ditingkatkan hingga 30 liter per detik,” ungkap Yudhi.
Ia menyebutkan, optimalisasi kedua sumur dalam tersebut berpotensi memperluas cakupan layanan air bersih hingga menjangkau sekitar 2.000 rumah warga di Balikpapan Timur.
Potensi peningkatan produksi ini diharapkan menjadi salah satu solusi jangka pendek untuk membantu mengurangi kesenjangan pasokan air bersih di Balikpapan. Namun, upaya tersebut tetap membutuhkan penambahan peralatan teknis dan optimalisasi fasilitas yang tersedia.
AHY menekankan, percepatan penyediaan air bersih harus menjadi prioritas, terlebih ketika masyarakat menghadapi ancaman musim kemarau berkepanjangan.
“Tidak boleh ada masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih, terutama di masa kemarau dan El Niño berkepanjangan. Akses air bersih adalah hak mendasar publik yang wajib dijamin oleh pemerintah,” ujarnya.
Selain mengoptimalkan sumur dalam, pemerintah juga mengkaji kemungkinan mendatangkan pasokan air dari Bendungan Sepaku Semoi yang selama ini menjadi salah satu sumber air bagi kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
AHY menilai, pasokan air permukaan dalam skala besar dibutuhkan untuk menjadi solusi jangka panjang bagi kebutuhan air bersih Balikpapan. Namun, rencana interkoneksi jaringan dari Sepaku Semoi tidak dapat dilakukan tanpa perhitungan teknis dan pembiayaan yang matang.
“Yang paling signifikan tentu kalau kita bisa mendapatkan aliran air dari Sepaku Semoi. Namun karena jaraknya cukup jauh, kita perlu menghitung ulang perencanaan teknisnya secara mendetail karena memang membutuhkan alokasi anggaran yang sangat besar,” jelasnya.
Karena itu, pemerintah mendorong agar upaya penambahan pasokan air tidak hanya bergantung pada proyek berskala besar. Optimalisasi sumber air yang sudah tersedia dinilai tetap penting untuk memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Walaupun tidak bisa langsung besar suplai yang bisa kita tambahkan, tetapi yang terpenting adalah selalu ada progres dan selalu ada kemajuan. Sepuluh liter per detik kita optimalkan, lalu kita tambah lagi 10 liter, dan seterusnya secara terencana untuk jangka panjang,” pungkas AHY.
Untuk memastikan percepatan pemenuhan air bersih berjalan sesuai rencana, Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan akan mengawal koordinasi lintas instansi, melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan Timur, serta PTMB.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat Balikpapan, baik melalui optimalisasi kapasitas produksi yang ada maupun pengembangan sumber air baku baru untuk jangka panjang.(mid)



