Jaga Lingkungan dan Beri Pesan Moral, Inovasi Desa Jembayan Tengah Melalui Sedekah Sampah
Oleh Admin2 menit baca1.624 dibaca

(Tempat Sedekah Sampah Desa Jembayan Tengah/pic:tanty)
POSKOTAKALTIMNEWS,KUKAR: Desa Jembayan Tengah di Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara (Kukar), terus melangkah maju dalam pengelolaan sampah berbasis keterlibatan warga. Salah satu inovasi tersebut adalah program Kotak Sedekah Sampah yang kini tersebar di berbagai fasilitas umum desa.
Kepala Desa Jembayan Tengah, Masnur mengungkapkan program ini lahir dari keprihatinan atas kondisi kebersihan ruang publik yang sebelumnya dipenuhi sampah.
Ia menuturkan bahwa sejak awal kepemimpinannya, dirinya mengedepankan pendekatan berkelanjutan dalam mengelola sampah.
Dimulai dari pendirian Bank Sampah hingga inisiatif kotak sedekah sampah yang mengajak masyarakat turut serta menjaga kebersihan lingkungan.
“Dulu sampah mudah ditemukan di mana-mana, sekarang kami siapkan kotak-kotak khusus agar warga terbiasa membuang sampah pada tempatnya,” ujar Masnur, Sabtu (20/06/2025).
Masnur menyebutkan kotak-kotak tersebut kini ditempatkan di berbagai titik strategis seperti masjid, musala, dan sekolah.
“Tidak hanya berfungsi sebagai tempat sampah, keberadaan tempat sampah ini, memang kita konsep untuk membawa pesan moral bahwa menjaga kebersihan adalah tanggung jawab bersama,” katanya.
Lanjut Masnur, sampah yang telah terkumpul selanjutnya akan disortir dan dikelola oleh tim Bank Sampah.
“Untuk sebagian besar sampah yang bernilai ekonomis kita daur ulang, sementara sisanya diangkut melalui kerja sama dengan mitra eksternal,” jelas Masnur.
Kades tersebut mengungkapkan untuk meningkatkan partisipasi warga, pemerintah desa juga menggandeng kelompok Dasawisma.
“Para ibu rumah tangga kami ajak memilah sampah rumah tangga yang masih bisa dimanfaatkan, lalu menukarnya menjadi tabungan yang bisa dicairkan menjelang hari raya atau saat kebutuhan mendesak,” tuturnya
“Dengan Dasawisma, ibu-ibu bisa menabung dari sampah rumah tangga mereka. Biasanya dicairkan saat Lebaran atau keperluan lainnya,” tambah Masnur.
Meski fasilitas masih terbatas, Masnur mengaku semangat gotong royong menjadi motor utama program ini.
Dirinya mengapresiasi warganya yang telah secara sukarela terlibat dalam pengelolaan dan penjualan sampah bernilai ekonomi, sementara sisanya diangkut dengan bantuan dari pihak luar.
Masnur juga mengaku dukungan eksternal pun mulai berdatangan. Salah satunya dari P3A Loa Kulu yang kini turut membantu pengangkutan sampah dari area belakang desa yang sulit dijangkau layanan rutin.
“Alhamdulillah, kini kami mulai mendapatkan dukungan seperti dari P3A Loa Kulu yang membantu akses ke wilayah belakang desa,” terang Masnur.
Ia berharap inisiatif ini menjadi pemantik kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah dan bentuk nyata kepedulian sosial.
“Sedekah sampah ini menjadi simbol bahwa membersihkan lingkungan juga bagian dari amal ibadah,” tutupnya. (Adv/Tan)




