Siswa Diharapkan Belajar Kritis Melalui P5 dalam Kurikulum Merdeka
Oleh Admin2 menit baca2.834 dibaca

Irma Yuwinda
POSKOTAKALTIMNEWS.COM, SANGATTA-P5 adalah singkatan dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) terus gencarkan oleh Dinas Pendidikan dan kebudayaan (disdikbud) Kutim. Plt. Kadis Pendidikan, Irma Yuwinda mengatakan projek ini merupakan bagian dari Kurikulum Merdeka.
"Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)
P5 adalah projek untuk menemukan jawaban atas pertanyaan mengenai peserta didik dengan kompetensi seperti apa yang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan Indonesia," ungkap Irma kepada awak media di Ruang Meranti kantor Bupati Kutim, Senin (14/11/2022).
Projek tersebut dilakukan dengan menanamkan karakter pada pribadi peserta didik berdasarkan nilai-nilai pancasila.
Kompetensi P5 memperhatikan beberapa faktor yang dapat memberikan pengaruh, baik faktor internal atau faktor eksternal. Adapun contoh faktor internal yang diperhatikan adalah ideologi, sementara contoh dari faktor eksternal adalah tantangan di era digital.
"Tentunya kami berharap implementasi dapat tercapai. Kalau implementasi pada siswa SD kelas 1-4 dan SMP kelas 7. Stap pertama yang mendaftar 273," ujarnya.
Menurutnya, setiap sekolah memiliki strategi antar sekolah berbeda. Konsep aplikasinya pun berbeda.
"Contoh pada SD 04 Sangatta menerapkan mengenal pemimpin dan maskot di Kutai Timur. Seperti mengenal bupati, wabup dan dewan profesi dan tanggung jawab mereka," terangnya.
Menurut Irma, Visi Pendidikan Indonesia adalah mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila. Selain itu, p5 ini dapat merangsang siswa untuk berfikir kritis.
"Hal ini bagian upaya menjadikan peserta didik sebagai penerus bangsa yang unggul dan produktif. serta dapat turut berpartisipasi dalam pembangunan global yang berkesinambungan," ucapnya.
Kerangka berpikir holistik yang ditanamkan dalam P5 akan mendorong peserta didik untuk mempelajari tema dan materi secara keseluruhan dan memahami persoalan secara mendalam.
Prinsip ini memotivasi pendidik dan peserta didik agar dapat menjadikan lingkungan dan realitas kehidupan bahan utama pembelajaran.
Satuan pendidikan berperan sebagai penyelenggara kegiatan projek profil harus membuka ruang dan kesempatan bagi peserta didik untuk dapat bereksplorasi di luar lingkup satuan pendidikan.
"Prinsip selanjutnya adalah prinsip yang menjadikan peserta didik sebagai subjek pembelajaran yang aktif," terangnya.(ADV)



