Kurang Gizi Penyumbang Penyakit TB
Oleh Admin2 menit baca3.897 dibaca

POSKOTAKALTIMNEWS.COM,SAMARINDA- Wakil Ketua PPTI Wialyah Kaltim Hj. R.A Astogini mengatakan penyakit TB, khususnya TB paru, masih menjadi permasalahan dunia. Indonesia termasuk 8 negara yang menyumbang 2/3 kasus TB di seluruh dunia, dan Indonesia menempati posisi kedua setalah India dengan 845.000 kasus dan kematian sebanyak 98.000 atau setara dengan 11 kematian perjam.
Ditambahkan, berdasarkan WHO Global TB Report 2020, faktor kurang gizi merupakan faktor resiko tinggi penyumbang penyakit TB. Berdasarkan hal tersebut , TB dan Stunting merupakan hal yang tidak terpisahkan dan sangat penting untuk melakukan hamornisasi kepentingan pemangku kebijakan lintas sektor dalam rangka mensinergikan upaya –upaya yang mendukung proses eliminasi TB tahun 2030 dan menurunkan pravalensi Stunting menjadi 14% pada tahun 2024.
“Mengacu kepada angka insidens TB di Indonesia yaitu 312 per 100.000 penduduk, maka diperkirakan kasus baru TB pertahun sebanyak 845.000 orang, dn pada tahun 2020 baru ditemukan sebanyak 552.000 orang, dan yang sedang menjalani pengobatan hanya 67 %,”kata Astogini saat mewakili Ketua PPTI Wilayah Katim, pada semimar kesehatan dengan tema Peran DWP Dalam Pengendalian Tuberkulosis (TB), di Ruang Ruhui Rahayu Kantor Gubernur Kaltim, Kamis (14/10/2021).
Di Kaltim, dengan jumlah penduduk saat ini kurang lebih 3,6 juta jiwa, lanjut Astogini mengatakan diperkirakan terdapat penderita 7.800 TB dengan Bakteri Tahan Asam (BTA) positif, dan yang ditemukan sampai dengan Desember 2020, hanya 30 % dari 80%. Artinya masih banyak lagi penderita TB yang ada dimasyarakat yang belum ditemukan. Untuk treatment Success Rate (SR) atau keberhasilan pengobatan sudah cukup tinggi yaitu 90%.
“Dari hasil penemuan tersebut dan pengobatan yang masih rendah itu, diperkirakan jumlah penderita TB di Kaltim akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2024, padahal lebih dari 75 % penderita TB adalah usia produktif dan tanpa penanggulangan yang konfrehensif, terintegrasi , dan serius , jelas akan merupakan ancaman terhadap pembangunan bangsa, khususnya di Kaltim,”ujarnya.
Adapun tugas utama PPTI, lanjut Astogini adalah sebagai penyuluh tentang penyakit TB kepada masyarakat luas pada tatanan akar rumput dilakukan oleh para kader terlatih dan kegiatan tersebut harus berujung dengan ditemukannya pasien TB dengan BTA positif dan dilakukan pendampingan pengobatan sampai dinyatakan sembuh oleh dokter.
“selain penyembuhan, diharapkan juga PTTI sebaiknya dapat juga memberikan santunan kepada pasien TB yang tidak mampu atau miskin, sesuai dengan kemampuan organosasi,”kata Astogini.(mar)



