Perlu Sinergitas Tanggulangi Penyakit Tuberkulosis
Oleh Admin2 menit baca5.220 dibaca

Foto
bersama peserta Rakerda PPTI Kabupaten/kota se Kaltim tahun 2020
SAMARINDA-Tuberkulosis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini tergolong sebagai penyakit menular dikarenakan kuman penyebab tuberculosis paru-paru ini dapat berpindah dari satu orang ke orang lainnya. Oleh karena itu guna mensinergikan program, Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosisi Indonesia (PPTI) Kaltim menggelar Rapat Kerja Daerah PPTI Kabupaten/Kota se Kaltim tahun 2020.
Rakerda PPTI Kabupaten/kota s e Kaltim tahun 2020, dibuka Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setdaprov Kaltim H.Elto mewakili Gubernur Kaltim H. Isran Noor, yang digelar di Ruang Rapat Tepian II Kantor Gubernur, Kamis (12/3/2020).
H.Elto memberikan apresiasi kepada jajaran pengurus PPTI Kaltim dan kabupaten/kota yang melaksanakan Rakerda PPTI, dengan harapan melalui program-program yang dibuat dapat menekan, menanggulangi dan memberantas penyakit tuberkulosis di Kaltim.
Di Kaltim, lanjut Elto diperkirakan lebih dari 16.000 penduduk telah terjangkit penyakit tuberkulosis (TBC) dan menjadi penular yang sangat potensial di tengah-tengah masyarakat, dengan capaian hampir penemuan kasus baru tidak lebih dari 60 persen pada tahun 2019.
Oleh karena itu, melalui Rakerda ini diharapkan dapat kembali merumuskan langkah-langkah yang kongrit terhadap penangulangan tuberkulosis yang berada di Kaltim. Bimbingan teknis dan monitoring evelausi sangat dibutuhkan dalam suatu kemajuan program, karena itu, Pemprov selalu mendukung terhadap program-program untuk menanggulangi dan mengeliminasi tuberkulosis di Kaltim,” kata Elto.
Elto juga meminta kepada seluruh pengurus OPTI dan seluruh stakeholders yang terkait, harus dapat bekerja sama, bekerja keras untuk menuntaskan berbagai program TBC, guna mencapai dampak yang signifikan terhadap upaya peningkatan kualitas derajat kesehatan masyarakat Kaltim.
Ketua PPTI Wilayah Kaltim Hj Noorbaiti Isran Noor juga mengharapkan kepada pengurus Cabang PPTI kabupaten/kota membuat rencana kerja yang efektif dan efisien, yang benar-benar menyentuh kepentingan bagi penderita TBC di wilayah masing-masing.
“Selain itu, setiap PPTI cabang dapat meningkatkan kolaborasi dengan semua perangkat daerah terkait, swasta, organisasi profesi lainnya, untuk meningkatkan cakupan penemuan penderita yang masih ada di masyarakat, “ kata Norbaiti.
Norbaiti juga meminta setiap PPTI cabang dapat membuat daerah percontohan, di satu kecamatan yang bisa di intensifkan kegiatan penemuan dan pengawasan minum obat bagi penderita TBC sampai tuntas. Dan selalu mengadakan rapat kegiatan minimal tiga bulan sekali, termasuk ikut aktif menilai keberhasilan program pengendalian penyakit TBC.(mar)



