Hamdiah Tegaskan Pentingnya Penanganan Stunting Melibatkan Semua Stakeholder
Oleh Admin2 menit baca750 dibaca

POSKOTAKALTIMNEWS,KUKAR: Stunting merupakan isu kritis yang membutuhkan pendekatan multi-sektoral dan menjadi permasalahan kekurangan gizi utama balita Indonesia saat ini tidak terkecuali di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Stunting disebabkan karena kurangnya asupan gizi yang berkepanjangan selama 1000 hari pertama kehidupan (HPK) anak di mana fase ini termasuk masa kritis dan penyakit infeksi berulang yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan berada di bawah standar.
Stunting diakibatkan oleh malnutrisi. Selain itu, kejadian stunting pada balita juga erat kaitannya dengan status kesehatan ibu pada saat hamil dan masa sesudah hamil. Indikator status gizi anak berdasarkan indeks tinggi badan/usia yang ditetapkan oleh WHO. Anggota Komisi IV DPRD Kukar Hamdiah Z menyebutkan indikator ini berisi informasi tentang indikasi permasalahan gizi kronis disebabkan oleh kemiskinan, life style, dan pola asupan makanan yang kurang baik yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan, maka dari itu pentingnya penurunan stunting ini dari semua sektor,” ujar Madinah kepada media ini, Rabu (19/11/2025).
Diketahui, meski mengalami penurunan, prevalensi stunting pada balita di Indonesia masih jauh dari target. Stunting pada balita perlu mendapatkan perhatian khusus karena dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan fisik, perkembangan mental dan status kesehatan pada anak. Stunting pada anak juga berhubungan dengan peningkatan kerentanan anak terhadap penyakit. Kasus stunting pada anak juga dapat dijadikan prediktor rendahnya kualitas sumber daya manusia suatu daerah.
Kejadian stunting sangat erat hubungannya dengan masalah gizi. Hamdiah menyatakan keluarga memiliki peranan penting dalam terjadinya kasus stunting pada anak. Salah satu langkah yang dapat dilakukan oleh keluarga yaitu dengan pemberian gizi yang sesuai dengan tubuh bayi sejak janin dalam kandungan, pemberian ASI Eksklusif, dan pemberian makanan dengan gizi yang cukup serta pola asuh balita yang tepat.
“Kesehatan dan gizi merupakan salah satu kebutuhan esensial anak usia dini yang harus terpenuhi, dengan hal tersebut diharapkan anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai kelompok umur,” ucap Politisi PKB ini.
Perhatian terhadap pemenuhan zat gizi anak hendaknya dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan anak yaitu dimulai dari masa awal kehamilan hingga anak berusia 2 tahun, masa ini disebut dengan golden age yaitu masa di mana terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada diri anak. “Setelah anak berusia diatas 2 tahun, pemenuhan terhadap asupan zat gizi harus tetap diperhatikan karena usia balita merupakan usia yang rawan terhadap berbagai penyakit dan masalah gizi.
Dalam penurunan stunting, pemberian ASI Ekslusif selama 6 bulan sangat diperlukan. Oleh karena itu, peran tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk memberikan informasi kepada ibu balita/ibu hamil untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan agar bayinya tetap sehat dan asupan yang dibutuhkan dari ASI dapat terpenuhi untuk bayi.
“Pola asuh makan yang diterapkan oleh ibu akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan balita karena kekurangangizi pada masa balita akan bersifat tidak dapat pulih sehingga pada masa ini balita membutuhkan asupan makan yang berkualitas. Risiko stunting dapat dikurangi dengan asupan nutrisi yang cukup da keterlibatan semua stakholder terkait, kalau dari kami siap memberikan penguatan di penganggaran dan pengawasan,” demikian Hamdiah.(ADV)




